(bukan) surat cinta #3

Previous: (bukan) surat cinta , (bukan) surat cinta #2

Ini kali ketiga aku membuatkanmu surat. Artinya dua tahun sudah berlalu. Pertanyaan ‘apa kabar’ atau sapaan ‘hai’ sudah pernah aku tulis sebelumnya. Menurutmu, apa yang ingin aku katakan saat ini?

Are you exist? 

Ya, itu yang ingin aku sampaikan. Apakah kamu benar-benar ada, Lelaki masa depanku?

Ada orang yang rela menunggu pasangan hidupnya hingga puluhan tahun. Ada orang yang memendam perasaannya hingga belasan tahun. Ada juga orang yang percaya bahwa perasaannya akan terbalaskan, satu hari nanti. Menurutmu mana yang lebih menyedihkan? Kuharap jawabannya bukan aku.

Kata orang, hidup itu seperti roda, berputar–berputar. Ada kalanya di atas, dan ada kalanya di bawah. Kalau memang hidup itu dianalogikan seperti roda, maka aku dan kamu adalah roda di sebuah sepeda. Kau adalah roda depannya dan aku adalah roda belakangnya. Sampai kapan pun, kita tak pernah bisa sejajar. Kita berada di jalur yang sama, tapi tak selangkah. Seberapa cepat aku mengejarmu, aku tidak bisa menyejajarkan diriku denganmu. Karena tempatku sudah ditentukan. Selalu di belakangmu. Mungkin itu yang dinamakan takdir.

Kau percaya takdir, Lelaki masa depanku?

Satu hari nanti, saat kita bertemu, aku harap kau membuktikan bahwa analogiku salah. Kau akan ajari aku mengenai hidup dan aku akan menceritakanmu mengenai bagian hidupku. Kau dengan bijaknya akan berkata bahwa meskipun mimpiku kekanakan, tidak ada yang tidak mungkin. Kau akan tersenyum padaku sambil berkata, “It is worth the wait.” dan yang kulakukan hanya memandangmu sambil merasakan debaran jantungku yang berdetak kencang. Kau akan mengusap puncak kepalaku karena kau tahu bahwa aku butuh diyakinkan. Yakin bahwa kau, Lelaki masa depanku, benar-benar ada dan nyata.

Satu hari nanti, saat kita bertemu, kau mungkin tidak akan tahu bahwa aku sudah berkali-kali menulis surat untukmu. Awalnya kau akan bilang bahwa aku ingin menyerupai pujangga, merangkai kata yang sebagian besar hanyalah belaka. Namun, diam-diam kau membaca semua suratku, sesekali tersenyum dan sesekali tertawa, dan dalam hati kau akan merasa bahwa kau adalah lelaki yang beruntung. Kenyataannya sebaliknya.

Lelaki masa depanku, entah butuh berapa surat yang aku tulis untukmu sampai saat itu tiba. Entah apakah aku harus menerjemahkannya ke bahasamu atau tidak. Sampai nanti pada waktunya, Lelaki masa depanku, aku berharap kau adalah lelaki yang tidak mengenal kata menyerah. Aku berdoa mimpimu semakin mendekati kenyataan. Dan berharap kau memiliki pengalaman-pengalaman berarti yang akan kau ceritakan padaku nanti. Jaga hidupmu baik-baik.

Sampai nanti.

Advertisements

Kindly write here if you have any comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s