Kusangka Cinta

Tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Nama, tempat, dan kejadian merupakan karangan. Jika terdapat kesamaan, hanyalah kebetulan belaka.

Seperti biasa, sepulang kuliah aku akan mengiriminya pesan bahwa aku sudah tiba di rumah dengan selamat. Dan selalu, ia akan membalasnya “Baguslah. 🙂 Kalau sudah selesai mandi, kasih tahu aku ya!”

Ya, percakapan dengannya selalu kunanti. Percakapannya itu bagaikan pelengkap hariku, karena ia adalah obat penenangku. Ia adalah Pradipta Setyo, yang akrab kupanggil Mas Dipta.

Setelah mendapat pesan balasan yang sama seperti biasanya, aku langsung terbirit ke kamar mandi. Ritual mandiku kupercepat. Hari ini tanpa lulur dan tanpa creambath. Aku ingin bercerita pada Mas Dipta, tidak, bukan bercerita. Tapi ingin sekedar mendengar suaranya. Kalau aku beruntung, aku bisa mendengar nyanyiannya. Suaranya tak pernah gagal membuatku tenang dan tersenyum.

Setelah mandi dan mengenakan pakaian piyamaku, kutekan pesan dengan kilat. Memberitahunya bahwa aku sudah selesai mandi dan siap menerima teleponnya. Hari ini gilirannya meneleponku.

“Halo, Mas,” sapaku dengan nada riang.

“Halo Jingga. Ceria sekali sepertinya,” jawabnya dengan nada ramahnya seperti biasa.

“Iya Mas, hari ini aku bisa mengerjakan kuis. Minimal bisa mendapat nilai 100 lah,” kataku dengan nada bercanda.

Ia tertawa. Suara tawanya mampu merekahkan senyuman di wajahku. Ya, aku bisa dengan sangat jelas membayangkan wajahnya tertawa. Lesung pipinya pasti merekah dan matanya pasti ikut berseri.

Lalu aku bercerita padanya bagaimana aku dan sahabatku mengunjungi Kota Tua dan iseng-iseng masuk ke salah satu bangunan lama yang katanya angker. Seperti Mas Dipta yang kukenal, ia mendengarkan ceritaku dengan sabar dan sesekali berkomentar.

“Kamu ini, lain kali jangan hanya berdua. Bahaya anak gadis ke tempat seperti itu,” pesannya dengan logat yang sudah familiar di telingaku.

Aku tersenyum pada diriku sendiri. Senang sekali diperhatikan seperti ini olehnya. “Iya, Mas,” jawabku patuh.

“Kamu ini sudah seperti adikku sendiri, Jingga. Jadi jangan buat aku khawatir ya, meski cuma mengunjungi tempat-tempat angker seperti itu, tapi tetap saja aku kan takut kalau sesuatu terjadi pada kamu,” lanjut Mas Dipta dengan nada serius.

Aku membeku. Tunggu, apa yang dibilangnya tadi? Seperti ADIK? Aku diam dan berusaha mencerna setiap perkataannya. “Udah seperti adik ya, Mas?” tanyaku akhirnya. Memberanikan diri untuk memastikan apakah telingaku mendengar hal yang benar. Ataukah aku yang terlalu mengada-ada.

“Tentu saja.” Terdengar sedikit nada bangga dalam suaranya. Tapi aku tak senang akan hal itu.

Aku diam. Entah, seluruh cerita yang kupersiapkan untuknya menguap begitu saja.

“Jingga…” Panggil Mas Dipta lembut.

Aku hanya bergumam. Tak yakin kalau aku menjawab dengan kata-kata aku akan terdengar seperti biasanya.

“Aku agak malu menceritakannya. Aku sudah menganggap dirimu seperti adikku dari dulu. Tapi masih tidak berani menceritakan ini. Karena itu, aku sudah bertekad mau berterus terang padamu,” kata Mas Dipta.

Aku bisa membayangkan rona merah muncul di kedua pipi Mas Dipta saat mengatakan kalimat-kalimat itu padaku. Tunggu, jangan mengatakannya dulu. Aku bahkan belum siap mendengarkannya.

Tak menunggu aku menjawab, Mas Dipta langsung melanjutkan ceritanya. “Minggu lalu aku memberanikan diri mengobrol dengan gadis yang kusuka.” Mas Dipta berhenti sesaat, mengatur degup jantungnya yang berdebar meski hanya bercerita mengenai gadis kesukaannya. “Dan tadi aku berhasil mengajaknya pergi berdua ke Taman di Pendirikan. Wah, bukan main aku gugupnya…….”

Mas Dipta melanjutkan ceritanya dengan semangat tanpa tahu bahwa tenggoranku tercekat. Tanpa tahu jantungku seakan berhenti berdetak. Tanpa tahu bahwa aku tak mau lagi mendengarkan setiap cerita manis dengan gadis pujaannya.

Kini, kenyataan berbicara. Kini ini bukan semu. Kini aku tahu, bahwa perasaan yang kami bagi tidaklah sama. Kini aku tahu, bahwa semua perhatiannya bukan seperti yang kukira. Kusangka itu cinta.  Ternyata bukan.

Ditulis oleh Ragatnia Clara. Kamis, 22 September 2011, 20.58. Jakarta.

Advertisements

2 thoughts on “Kusangka Cinta

Kindly write here if you have any comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s