kecintaan menulis

Kali ini aku pengen nge-post pake bahasa Indonesia, tapi bukan lagi bikin cerita pendek loh yaa 😀 Jadi, maaf-mianhae-sorry-hampura buat pembacaku yang nggak ngerti bahasa Indonesia (lo kira pembaca lo bule semua?!) :p

Banyak orang bilang, kesukaan menulis itu gara-gara nggak bisa mengekspresikan sesuatu dengan ucapan, maka lahirlah ekspresi lewat tulisan. Ada yang bilang juga kalau orang yang senang cerita alias kerjaannya curcol mulu, pasti bisa nulis. Bener ga sih? Bener ga yaaaa? #eaaaaa *maaf ya, kalau pake bahasa Indonesia, sablengnya aku keluar #eaaaaalagi

Entah pengalaman orang lain kayak gimana, tapi berdasarkan pengalaman aku sih, awalnya justru aku nggak suka nulis. Kecintaanku pertama kali itu pada buku, alias baca. Masih inget nggak seri cerita lumba-lumba, yang ada 4 buah buku (kalau nggak salah) terus ada box tasnya gitu? Sebenernya sih ceritanya cuma berapa lembar, tapi tebel gara-gara bukunya terbuat dari karton kardus gitu. Ada yang pernah punyaaa? Nah, dulu waktu aku TK, aku dibeliin seri cerita lumba-lumba itu. Geellllaaaa, jaman TK punya buku cerita begituan bagi aku super mewah. Makanya buku itu aku sayang-sayang. Meski sekarang wujudnya nggak tahu di mana. Itu satu-satunya buku paling mahal yang aku punya waktu kecil. Beranjak SD, Mama sama Papa bukan tipe orangtua yang ngedongengin anaknya sebelum tidur, jadilah aku dan saudara-saudaraku jarang sekali punya buku cerita.

Di SD, aku dikenalkan sama temanku sebuah Taman Bacaan, tempat penyewaan komik dan novel gitu. Di situlah kecintaan awalku sama komik. Ya, baru komik. Soalnya komik kan isinya gambar-gambar lucu dan tulisannya sedikit. Aku lebih suka baca kalimat pendek tapi sekalian bisa lihat gambarnya. Beda sama novel yang isinya tulisan semua. Apa bedanya sama buku pelajaran coba? Jadilah saat SD aku freak banget sama yang namanya komik. Nggak semua komik juga sih, yah tergantung cerita sama komikusnya juga.

Berlanjut ke SMP, aku dikenalkan sama kakakku novel. Novel pertama yang aku baca itu seri pertama Mates, Dates, and blablabla (lupa judulnya, kalau nggak salah Wonder Bra). Dan ternyata seru juga. Ternyata buku yang isinya tulisan semua itu punya cerita yang menarik. Akhirnya aku dan kakak rajin baca novel terjemahan. Nah, karena senangnya hanya dengan novel terjemahan, jadilah aku alergi dengan novel asli Indonesia. #eaaaaa #belagumodeon

Tapi eh tapi, kakak aku minjem novel Indonesia sama temennya. Aku lupa novel pertama yang aku baca. Entah Dealova atau Fairish. Tapi yang jelas, aku jadi tahu kalau novelis Indonesia nggak kalah keren kalau bikin cerita. Dari situ lah aku juga mulai appreciate sama buatan negri sendiri.

Dan aku mulai mengenal dunia menulis dari kakakku lagi. Ya, dia orang berjasa yang membuat aku menyukai novel dan mencintai tulisan. Kakakku dari dulu memang seorang imajiner. Mungkin gara-gara membaca novel, membuat dia tertarik untuk membuatnya sendiri. Aku hanya seorang pembaca. Menikmati setiap tulisan orang. Dan saat itu aku juga hanya menikmati tulisan kakakku dan mengomentari seperlunya. Dia berbakat, aku akui. Lalu ia mencetak novel buatannya sendiri hanya dengan mesin printer. Saat itu jujur aku begitu terkagum melihat usahanya. Tampak begitu mewah, padahal hanya sebuah novel yang dicetak dengan printer rumahan.

Aku merasa terpacu. Aku yang selama ini hanya bisa menikmati tulisan orang lain, melihat usaha kakakku, aku pun menjadi terbakar. Aku mulai menulis saat SMP. Dilanjutkan saat SMA. Hasilnya aku mencetak 2 buah novel hasil jerih lelahku dengan mesin printer di rumah. Begitu bangga. Dan sangat bangga karena teman-teman yang membaca memberikan respon bagus.

Saat itulah, aku begitu mencintai tulisan. Aku menyukai rangkaian kata khasku. Aku seorang imajiner ulung. Khayalanku tanpa batas. Karena berkhayal itu gratis, maka aku tidak menyia-nyiakan setiap ide yang muncul. Banyak cerita yang kusimpan, namun tidak semua memiliki akhir. Cukup sulit memulai sesuatu, dan kau berhenti, lalu kamu memutuskan untuk melanjutkan. Sulit. Dan itulah yang terjadi padaku banyak kali.

Sering aku melihat karya tulis orang-orang muda Indonesia. Negeri kita ini dipenuhi oleh talenta orang yang pandai menulis. Sungguh. Setiap orang memiliki cirinya masing-masing dalam merangkai kata. Aku bukan pujangga, aku juga tak mendalami sastra. Tapi aku hanya suka menulis. Dan aku ingin menjadi diri sendiri saat aku menulis. Ketika orang membaca hasil karyaku, mereka akan mengenal diriku dalam untaian kata yang kubuat.

Aku tidak bisa seperti Raditya Dika yang entah kenapa bisa terlihat bodoh sekaligus konyol dalam tulisan. Aku juga bukan Ika Natassa yang bisa mendeskripsikan banyak hal dalam novelnya. Tapi aku ingin seperti mereka, yang menulis dan tulisannya disukai oleh banyak orang.

Kecintaan menulisku ini lahir dan terus berkembang. Kadang hasratnya goyah, namun seringkali terpacu untuk bertumbuh terus. Sampai nanti, aku akan terus menulis. 🙂

Wah, kelihatannya tulisannya makin serius. #yakali becanda mulu. Ya sudah, hari ini cuma mau nge-post tentang itu aja kok. 🙂 Maaf ya kalau ngerasa post ini nggak penting, makanya pembaca-pembaca setiaku (jia elah…gahul) kalau ingin aku nulis tentang sesuatu, bisa request di nomer yang tertera di bawah ini (lo kira sms berhadiah?). Maksudnya ya kalau punya request, bisa komentar di blog ini. Komen di post ini juga boleh. 🙂

Sampai ketemu (benar-benar) secepatnya!

Advertisements

2 thoughts on “kecintaan menulis

Kindly write here if you have any comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s