Semu

Tulisan ini hanyalah fiktif belaka. Nama, tempat, dan kejadian merupakan karangan. Jika terdapat kesamaan, hanyalah kebetulan belaka.

“Jangan menangis lagi,” ujarnya di tempat yang berada berkilo-kilometer jauhnya dari tempatku.

Aku masih sesunggukan karena menangis. Entah bagaimana, namun saat mendengar suaranya, riak tangisku semakin menjadi. Dia diam. Tak berkomentar, namun diamnya menenangkanku.

“Masih takut?” akhirnya ia berkata setelah tangisku memelan.

Aku menggeleng. Lupa bahwa ia tak bisa melihatku. Lalu akhirnya aku menjawab, “Nggak.”

“Mau kutemani sampai tertidur?” tanyanya dengan nada yang tenang dan menghangatkan.

“Mau,” jawabku sedikit manja.

Lalu ia melantunkan lagu kesukaannya yang menjadi kesukaanku juga. Suaranya tidak sebagus Afgan, suaranya tidak semerdu Vidi Aldiano. Tapi bagiku, hanya suaranya yang mampu membuatku terlelap dalam kedamaian yang hangat. Teringat saat pertama kali aku mengenalnya. Kami saling mengenal karena kami adalah bagian humas dari organisasi kampus kami masing-masing. Kami bertukar nomor telepon agar mudah menghubungi pihak kampus lain. Hingga satu waktu, ia yang mengajakku ngobrol hal-hal yang tidak berkaitan dengan kampus. Kami menjadi dekat. Merasa bahwa kami adalah teman yang tercipta bahkan sebelum kami dilahirkan. Meski belum pernah bertatap muka, kami merasa bahwa kami bahkan sudah mengenal lekuk wajah kami masing-masing.

Mengiriminya pesan singkat atau meneleponnya merupakan rutinitas yang sulit dipisahkan. Berkomunikasi dengannya merupakan menu makan ke empatku. Tak jarang kami saling bercerita. Hingga aku yakin, di antara kami bukanlah hanya sekedar teman berbagi cerita. Tapi kami juga membagikan perasaan kami. Tapi aku takut. Takut kalau-kalau perasaanku semu. Takut kalau-kalau itu semua hanya emosi yang tak tersalurkan sehingga membuncah di antara kami. Bahkan kami tak menyadari bahwa perasaan kami itu adalah palsu yang menjelma. Aku takut.

Tapi lagi, aku kalah akan kelemahanku. Aku belum siap menerima kenyataan, entah itu baik atau buruk. Tapi selagi kubisa, aku tak mau membuyarkan kesemuan ini. Tak apa jika semu. Asalkan lagi, ia menenangkanku.

“Jingga,” panggilnya lembut.

Aku belum tertidur. Lamunanku yang sudah setinggi atap rumahku kini jatuh ke darat. “Hmm?” gumamku.

“Belum ngantuk ya?” tanyanya lagi dengan logat khasnya.

“Belum, Mas Dipta. Mas sudah ngantuk ya?” tanyaku khawatir kalau Sang Penenangku sudah kelelahan menemaniku.

“Belum kok. Mas nyanyikan lagu kesukaanmu ya?” tanyanya lagi dengan nada ramah.

Aku bisa bayangkan wajahnya kini melengkungkan sebuah senyuman super ramah.

“Iya, Mas,” jawabku sambil memeluk gulingku. Kudengar ia melantunkan lagu yang dulu pernah kuceritakan.

Apapun lagunya, asalkan kau yang menyanyi, bagiku cukup. Entah intensi kau menyanyi itu apa, entah itu hobi, atau kau memang tulus menyanyikannya untukku, bagiku itu cukup.

Biarlah malam ini kunikmati lamunan tentangmu lagi, Mas Dipta. Tak peduli apakah perasaan ini semu atau nyata. Biarkan ini tetap begini untuk sementara. Bagiku cukup.

Ditulis oleh Ragatnia Clara. Sabtu, 17 September 2011, 22.56. Jakarta.

Advertisements

10 thoughts on “Semu

  1. bacanya kaya baca curhatan kamu la… enak bacanya. hhe…
    sweet kaya drama2. meski cerpen tp kaya menceritakan segalanya. halah.. hha.. mantap la.. lanjutkan.. Gb

Kindly write here if you have any comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s