Untuk Papa [project dear papa]

Halo Papaku tersayang,

Sang Pahlawan dalam hidupku,

 

Rangkaian kata yang kubuat ini mungkin belum dapat membalas semua pengorbanan yang Papa lakukan dalam hidupku. Tapi, maukah Papa menerima rasa terima kasihku?

 

Terima kasih karena telah menjadi ayahku, Pa. Aku belajar untuk menerima diriku apa adanya dan bersyukur atas hidupku karenamu. Bersyukur bahwa jika ayahku bukan dirimu, aku tidak tahu apakah aku akan sekuat sekarang atau tidak.

 

Terima kasih karena telah mendidikku dengan keras, Pa. Akhirnya aku tahu bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan kerja keras. Masih ingat saat aku duduk di kelas 1 SD? Kau mengajariku bagaimana menghitung penjumlahan ratusan. Aku gagal berkali-kali. Dan kau memarahiku hingga aku menangis. Tapi kau tidak merangkul dan menghapus air mataku, tetapi memukulku dan menyuruhku berdiri di luar rumah hingga air mataku berhenti. Ya, didikanmu keras. Tapi aku tidak membencimu atau tindakanmu, Pa. Justru setelah aku berhenti menangis dan kembali mengerjakan PR matematikaku itu, aku berhasil menghitung penjumlahan ratusan. Ya, aku berhasil.

 

Terima kasih karena telah menunjukkan kejujuran dan integritas yang luar biasa, Pa. Aku masih ingat cerita Mama bahwa rekan-rekan di kantormu banyak yang berhasil dan bergelimang harta karena ‘kecurangan’ mereka. Tapi kau tetap puas hanya dengan menikmati hasil kerja kerasmu yang memang layak kau dapatkan. Meski hidup sederhana, tapi kau lebih baik mempertahankan kejujuran, kepercayaan, dan integritas. Aku selalu tahu, bahwa ayahku memang tidak akan mengecewakanku. Dan aku tidak akan malu memanggilmu Papa. Aku belajar memiliki integritas dan kejujuran karenamu.

 

Terima kasih karena telah menunjukkan rasa sayangmu, Pa. Kita memang bukan keluarga yang mudah untuk bilang ‘sayang’ terhadap satu sama lain. Namun, kita sama-sama tahu bahwa kita saling sayang. Pernah satu kali aku memberanikan diri dan mengumpulkan segenap tekadku untuk mengirimimu pesan singkat: “Aku sayang Papa”. Dan kau membalasanya: “Papa juga sayang Lala”. Saat membacanya, hatiku hampir meledak saking girangnya. Aku bersyukur punya ayah yang mau mengucapkan rasa sayangnya pada anaknya, bagiku, pesan singkat yang kau kirim adalah salah satu bentuk kasih sayang yang selama ini kau curahkan padaku.

 

Terima kasih karena mengingatkanku bahwa kehadiranmu begitu berharga, Pa. Beberapa tahun yang lalu, saat tiba-tiba rekan kerjamu mendatangi rumah dan aku yang membukakan pintu. Kebingungan menjalariku. Padahal saat itu kau sedang bertugas di Sibolga. Waktu itu rekanmu berbicara sangat pelan dan hati-hati, ia memberitahu bahwa kau harus dilarikan ke rumah sakit akibat tersedak saat makan. Saat itu aku diam, berusaha mencerna setiap perkataannya. Gelagatnya membuatku sedikit heran. Apa yang terjadi denganmu di luar sana, Pa? Dan ternyata kau harus dioperasi paru-paru. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya. Saat itu aku hanya berpikir kau sakit biasa. Tapi setelah kupikir, kau berada di keadaan yang cukup serius. Setiap kejadian pasti selalu ada alasan untuk terjadi. Dan salah satu alasan kenapa kau sakit waktu itu adalah agar aku sadar bahwa kehadiranmu sungguh berharga.

 

Terima kasih karena masih mendengar rengekan anakmu ini, Pa. Kami tiga bersaudara. Dan sebisa mungkin kau memperlakukan kami sama. Akibat pekerjaanmu yang mengharuskan kau bertugas di luar kota, pulau, bahkan negeri, waktu yang kita lewatkan terbatas. Seharusnya saat ada waktu bersamamu, aku lebih memperhatikan quality time kita dan bukannya merengek minta dibelikan sesuatu. Tapi sungguh, terima kasih karena Papa masih mau mendengar rengekanku, padahal aku sudah berumur 19 tahun, tapi kau masih mau mendengarnya.

 

Terima kasih karena sudah menamakanku Ragatnia Clara, Pa. Aku tahu nama Ragatnia berasal darimu, dan Clara berasal dari Mama. Aku senang nama yang diberikan Mama. Tapi aku cukup aneh dengan nama yang kau berikan. Seringkali orang sulit mengucapkannya dan malah salah menyebutku. Kadang-kadang itu membuatku kesal. Tapi semakin besar, aku semakin menyukai nama Ragatnia. Nama ini satu-satunya di dunia, karena hanya kau yang menciptakannya. Dan meski orang lain kesulitan atau salah menyebutnya, aku berterima kasih karena Papa menamakanku itu. Aku suka.

 

Terima kasih karena kau ada, maka aku ada, Pa. Semua pengorbanan Papa tidak bisa kuhitung. Semua jerih lelah Papa tidak mungkin kuuangkan. Tapi aku akan berusaha menjadi anak yang baik dan membuatmu bangga. Seperti dirimu Pa, yang membuatku bangga. Aku bangga punya Papa. Aku sayang Papa.

 

 

Love,

 

Anakmu

Advertisements

One thought on “Untuk Papa [project dear papa]

Kindly write here if you have any comment :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s